Jumat, 05 Oktober 2012

Melahirkan Bayi Prematur


Kalau ngomongin tentang kehamilan dan kelahiran, kadang saya suka sedih deh. Gimana enggak, waktu hamil dulu saya gak ngerasain hamil sampai usia 9 bulan, atau istilahnya hamil tua. Kata orang, di hamil tua itu lah sensasi nikmatnya menjadi bumil benar-benar terasa. Mulai dari susah tidur, susah duduk, susah makan, eh salah ya maksudnya susah nahan nafsu makan, sampai susah berjalan. Wooow..luarr biasa banget ya kodratnya wanita itu. Oia, balik lagi ke cerita sebelumnya, kenapa saya tidak mengalami masa hamil tua? Apakah karena memang saya tidak pernah hamil? atau keguguran di saat hamil muda?  Jawabannya adalah, saya itu mengalami hamil dan mengalami masa hamil muda, hanya saja saya hanya alami sampai usia 7 bulan saja, atau sekitar usia 30 minggu. Kenapa? Karena pada saat saya sedang mengandung di usia tersebut, saya mengalami pecah ketuban dini. Awalnya saya tidak mengira lho kalau air yang keluar dari rahim saya itu air ketuban, karena rasanya hanya seperti “pengen pipis”. Air berwarna bening itu saya rasakan keluar seperti kita sedang mengompol atau sedang mengalami haid. Karena panik dan bingung dengan kondisi tersebut, lalu saya menelpon dokter kandungan, menurut dokter sih saya harus segera ke rumah sakit untuk diperiksa karena dikhawatirkan saya mengalami pecah ketuban. Perasaan saya dan suami waktu itu sangat kalut, antara takut, khawatir akan sang janin, sedih dan campur aduk pokoknya. Jika readers mengalami Ketuban pecah dini, sebaiknya ikuti langkah berikut artikel tentang ketuban pecah dini
Ternyata kekhawatiran saya benar-benar terjadi, dokter memberikan pilihan pada kami. Yaitu, mengeluarkan segera si jabang bayi, atau ditunggu sampai usia 9 bulan dengan resiko cacat mengingat pada saat itu kondisi air ketuban semakin berkurang. Ditengah menahan rasa sakit dan mules yang luar biasa, saya tak henti-hentinya menangis (memang dasarnya saya ini keturunan melankolis, hehe). Suami selalu memberikan dukungan, dia selalu mengajak saya untuk tenang dan berdoa.
Akhirnya, sebuah keputusan berani kami ambil. Demi kesehatan saya dan si jabang bayi, kami memutuskan untuk melahirkan. Itu artinya kami siap menerima resiko melahirkan bayi prematur. Tidak pernah terbayang olehku mengalami hal ini. Setelah menerima suntikan penguat paru, keesokan harinya, 17 november 2008, saya menjalani proses operasi secar. Tepat pukul 11.45 operasi berhasil, dan saya melahirkan bayi perempuan, sesuai perkiraan dokter di bulan sebelumnya. Karena terlahir prematur, bayi kami hanya memiliki berat sekitar 1500gr dengan panjang 40cm. Bayi mungil itu kami beri nama Dealova Almyra Purnomo, yang artinya wanita tangguh dengan segala makna yang baik, sedangkan purnomo diambil dari nama belakang suami. Kami biasa memanggilnya Aira.
Kondisi Aira yang terlahir kurang bulan, membuat keberadaannya dipisahkan dengan bayi lahir cukup bulan. Aira harus diberikan perawatan khusus di ruang NICU (Neonatology Intensive Care Unit) yang artinya kurang lebih unit perawatan intensif bayi baru lahir yang memerlukan perawatan khusus, salah satunya menangani bayi prematur. Kondisi kesehatan Aira Alhamdulillah tidak mengalami masalah, hanya saja dia tergolong bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR). Perawatan yang maksimal terus dilakukan untuk Aira dan juga bayi-bayi mungil lainnya. Semua terjadwal, seperti pemberian ASI, kunjungan orang tua, penimbangan berat badan, penggantian popok, sampai terapi kanguru.
Sedih rasanya melihat kondisi Aira yang terpisahkan dengan saya. Setiap kali nengok ke pasien sebelah, yang sama-sama baru melahirkan, saya menangis. Saya iri melihat mereka bisa bersama si buah hati sambil menyusui. Sementara saya, ASI hanya bisa diberikan di jam-jam tertentu itu pun tidak langsung, jadi saya harus memompa terlebih dahulu.
Mengenai ASI yang diberikan untuk Aira, waktu itu sempat ada pro kontra antara saya dan pihak rumah sakit. RS menyarankan agar Aira dibantu dengan susu formula agar lebih optimal untuk menaikkan berat badan. Tapi saya tolak, karena saya yakin akan keutamaan ASI, seperti yang dijelaskan dalam artikRiset tentang ASIel…..pernah suatu hari, kami ditawari produk susu Singapore oleh salah satu dokter disana. Awalnya .kami sempat setuju dengan produk itu. Tapi setelah berbagai pertimbangan dan diskusi dengan keluarga kami batal memesan susu tersebut. Selain harganya mahal, kualitas pun belum tentu terjamin. Kami percayakan pada ASI. Alhamdulillahnya, ASI saya melimpah pada saat itu. Suami saya sangat ayah ASI. Dia selalu mendukung saya untuk memberikan ASI pada Aira, setiap hari saya menyetok ASI untuk dibawa ke rumah sakit keesokan harinya. Untuk para ibu, yakinlah kalau ASI itu pilihan tepat dan terbaik untuk buah hati kita. Minimal ASI ekslusif sampai 6 bulan, maksimal sampai 2 tahun.
Singkat cerita, Aira dirawat di rumah sakit selama 30 hari, setelah berat badannya mencapai 1800gr dan dokter menyatakan kondisinya memungkinkan untuk dirawat di rumah. Wuiiih..senangnya luar biasa. Meskipun bingung juga tentang perawatan selanjutnya di rumah. Tapi kami harus siap dan yakin semua akan berjalan baik-baik saja.
Merawat bayi di rumah, ternyata gampang-gampang susah. Karena pengetahuan saya tentang merawat bayi sangatlah awam, maka sebulan pertama Aira dirumah, saya minta ditemani tante dan bergantian dengan ibu saya. Bulan berikutnya, berdasarkan pengamatan dan pengalaman para “suster” Aira dirumah, kami sepakat untuk merawat sendiri buah hati kami. Dengan bermodal majalah, buku serta keikutsertaan di milis, sedikit-sedikit saya mengetahui tentang perawatan untuk bayi prematur. Secara umum sih tidak ada bedanya mungkin ya dengan merawat bayi pada umumnya, hanya saja kekhawatiran kami yang terlalu besar, membuat kami memperlakukan Aira secara spesial. Oia, saya lupa memberikan informasi. Pada saat saya membawa pulang Aira dari RS, suster memberikan petuah, begini katanya “….bu, kalau ngasih minum/ASI jangan banyak-banyak ya bu, barangkali ibu lakukan biar bayinya cepet gede, karena bayi premature itu mudah tersedak, soalnya paru-parunya belum kuat, satu lagi biasanya bayi kecil itu suka lupa nafas lho bu, jadi ibu harus sering memperhatikan. Kalau itu terjadi pada Aira, ibu kelitikin saja telapak kakinya, biar dia bangun….” Itu kira-kira penggalan kalimat yang masih saya ingat. Merasa banyak yang perlu kami perhatikan, akhirnya kami sering bergiliran begadang untuk menjaga Aira. Alhamdulillah semua terlewati dengan baik.
Seiring dengan bertambahnya umur, bertambah pula perkembangan Aira. Dari waktu ke waktu, Aira mengalami perkembangan yang cukup memuaskan. Yang bikin kami bangga, perkembangan dia tidak terlihat berbeda dengan anak-anak yang lahir normal. Secara motorik mungkin kami nilai Aira agak sedikit lamban, misalnya saat anak lain bisa melompat di umur 2tahun, Aira baru bisa akhir-akhir ini. Tapi untuk sisi emosi dan kecerdasan, kami rasa dia normal-normal saja.
1-2 tahun usia pertamanya, Aira sering mengalami sakit. Sakit yang di derita sih tidak jauh dari batuk-pilek, dan kata orang itu wajar. Awalnya kami mengkhawatirkan kondisi Aira yang sering sakit. Tapi orang-orang di sekeliling kami selalu memberikan penjelasan atau dukungan bahwa kalau anak belom dua tahun memang begitu, rentan sakit. Setelah kami amati, ternyata kata orang-orang itu ada benarnya juga ya..jadi bukan karena Aira terlahir prematur, bahkan anak yang lahirnya normal pun mengalami hal itu. Ditengah-tengah kewajaran itu, jauh di lubuk hati kami, ada perasaan was-was. Kami pun sering berkonsultasi dengan dokter spesialis anak. Alhamdulillah, dari semua dokter yang kami temui, Aira tidak mengalami suatu penyakit serius. Kalaupun ia sering mengalami batuk pilek, itu hanya karena alergi atau factor cuaca dan lingkungan. Mungkin pendapat dokter ada benarnya juga ya, mengingat untuk kebutuhan asupan nutrisi, saya fikir Aira sudah mendapatkan yang terbaik.
To be continue….

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar